Kamis, 20 November 2014



THE DILEMA
BIARA OR TIARA

“Regal, sekarang kamu harus berpikir matang-matang, kamu harus memilih antara tiara atau biara.Ingat regal, tolong gunakan hatimu”.



Kata-kata terakhir tiara sebelum melangkah meninggalkan regal saat pertemuan terakhir mereka disebuah taman, disebuah kota kecil nan sepi, broko.Kembali terngiang dibenak regal. Yah, kata-kata itu bagaikan hantu yang selalu menerornya disetiap kesendiriannya terlebih disetiap malam sebelum matanya benar-benar terkatup. Dan hal serupapun kembali terjadi malam ini.



Namun mala mini lebih berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini terasa lebih pilu dan sunyi. Didalam sebuah kamar biara yang berukuran super sempti, diatas tempat tidur besi beralaskan kasur tipis ia berbaring. Matanya menengadah keatas menatapi langit-langit kamar yang bercat putih menambah kekosongan jiwanya dan membuatnya lebih tenggelam dalam lamunanya. Namun lamunnya kali ini disokong oleh akal sehatnya, seperti ia sendirilah yang membiarkan dirinya tenggelam kedalam lamunnya itu.Lamun itu adalah sebuah kenangan, yah pantasnya disebut mengenang.



Akibat dari bisikan tiara yang selalu menghantuinya membuat regal membiarkan pikirannya dihuni oleh kenangan-kenangan indah dahulu bersama kekasih hatinya, tiara. Ia terkenang akan saat-saat pertama medekati tiara, saat mengungkapkan cintanya pada tiara dikantin sekolah yang saat itu sempat ditolak oleh tiara. Namun ia tetap gigih untuk mendapatkan cinta tiara, ingga ia kembali mengungkapkan cintanya kepada tiara disaat ujian semester berlangsung.



Pada saat itu tiara sedang dengan seriusnya mengerjakan soal-soal ujian matematika, dan kebetulan regal mendapat nomor ujian yang tempat duduknya sebangku dengan tiara. Saat pengawas ujian sedang tidak memperhatikan mereka, regal memegang tangan kanan tiara yang sedang memegang pensil 2B, menatap mata tiara dan kembali menyatakan cintanya. Kali ini tiara tersenyum dan berbisik lembut, “kita lanjutin lagi bicaranya setelh ujian yah…” dan akhirnya tiara menerima pernyataan cinta regal.



Dua setengah tahun berlalu penuh keceriaan dan kasih sayang diantara mereka. Mereka telah menciptakan kenangan-kenangan indah yang sulit terlupakan. Merekapun berhasil menjaga baik benih-benih cinta yang teah mereka tanam dihati mereka. Sampai suatu saat….



Ujian akhir nasional telah berlalu dan pengumuman kelulusan pun telah diumumkan. Entah keajaiban apa yang terjadi membuat regal dan tiara lulus dengan nilai yang sangat tinggi, mereka berdua pun tidak mempercayainya “ ah mungkin tuhan lagi baik hati”, canda mereka. Namun saat-saat beginilah yang paling memilukan, karena mereka semua harus berpisah menuju pilihan hidup yang baru untuk menuju masa depan yang cerah.



Hal yang serupa pun akan terjadi pada dua sejoli ini, dan mereka telah menyadarinya. Disebuah taman kota yang bagi para anak muda menyebutnya dengn taman cinta broko, mereka berdua duduk dibawah kaki patung pahlawan yang bediri gagah perkasa sambil mengacungkan pedang keatas. Ditaman inilah kejadian menyakitkan terjadi, ditaman inilah kata pisah terungkai dalam kalimat, disinilah lambaian tangan dan langkah kaki menjauh tercipta dan disinilah benih-benih cinta mereka yang telah tumbuh akhirnya layu dan mati.



Saat itu mereka duduk bersebelahan, sunyi dan sepi.”sekarang kita harus  bagaimana?Apa kamu yakin dengan pilihan mu?Apa kamu bersi teguh untuk masuk biara dan meninggalkan tiara?Terus apalah artinya cinta kita selama ini?pernyataan beruntun tiara memecahkan kebisuan diantara mereka.



            Regal diam tak bekutik. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, entah bingung untuk menjawab ataukah tak menemukan kata yang tepat untuk berkomentar, yang pasti ia hanya menunduk bisu. Wajahnya ia lenyapkan diantara lututnya. Ia sedang dalam dilemma yang besar. Ia harus memilih kekasih hati atau suara hati. Keduanya begitu mulia dimata hatinya bagaikan emas dan berlian, siapakah yang mampu membuang salah satunya?



            Malam semakin larut, udara bertambah dingin, suasana semakin pilu dan makin mencengkam. Bintang-bintang yang tadinya terang benderang kini redup, bagaikan ikut merasakan suasana hati kedua sejoli ini. Detak jarum detik dari arloji yang dikenaka regal semakin terdengar keras, namun detak jarum jam itu tak sebanding dengan cepatnya degup jantung kedunya.



            Tiba-tiba tiara berdiri dari duduknya, seketika itu regal tersadar dari kebingungannya. Sambil berjalan pelan tiara berkata “Tiara rela ko melepas kamu, asal kamu juga rela melepas tiara”. Tiara terus berjalan menuju parkiran, sedangkan regal masih tersimpuh dibawa patung itu sambil matanya terus memandangi perginya tiara hingga lenyap hilang bersama ojek yang ditumpanginya.



            “Ding…dang…dung…” lonceng biara berbunyi tiga kali pertanda semua lampu harus dimatikan dan semuanya harus segera tidur. Bunyi lonceng itupun mengembalikan kesadaran regal dan sekaligus melenyapkan kenangan-kenangan itu dipikirannya. Regal pun bangun dan berniat mematikan lampu kamarnya, tanpa sadar ia merasakan butiran-butiran halus mengalir di kedua pipinya. Dengan malu ia mengusapnya, mematikan lampunya dan membenamkan dirinya kedalam selimutnya yang tipis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar