THE
DILEMA
BIARA
OR TIARA
“Regal, sekarang kamu harus berpikir matang-matang,
kamu harus memilih antara tiara atau biara.Ingat regal, tolong gunakan hatimu”.
Kata-kata terakhir tiara sebelum melangkah
meninggalkan regal saat pertemuan terakhir mereka disebuah taman, disebuah kota
kecil nan sepi, broko.Kembali terngiang dibenak regal. Yah, kata-kata itu
bagaikan hantu yang selalu menerornya disetiap kesendiriannya terlebih disetiap
malam sebelum matanya benar-benar terkatup. Dan hal serupapun kembali terjadi
malam ini.
Namun mala mini lebih berbeda dari malam-malam
sebelumnya. Malam ini terasa lebih pilu dan sunyi. Didalam sebuah kamar biara
yang berukuran super sempti, diatas tempat tidur besi beralaskan kasur tipis ia
berbaring. Matanya menengadah keatas menatapi langit-langit kamar yang bercat
putih menambah kekosongan jiwanya dan membuatnya lebih tenggelam dalam
lamunanya. Namun lamunnya kali ini disokong oleh akal sehatnya, seperti ia
sendirilah yang membiarkan dirinya tenggelam kedalam lamunnya itu.Lamun itu
adalah sebuah kenangan, yah pantasnya disebut mengenang.
Akibat dari bisikan tiara yang selalu menghantuinya
membuat regal membiarkan pikirannya dihuni oleh kenangan-kenangan indah dahulu
bersama kekasih hatinya, tiara. Ia terkenang akan saat-saat pertama medekati
tiara, saat mengungkapkan cintanya pada tiara dikantin sekolah yang saat itu
sempat ditolak oleh tiara. Namun ia tetap gigih untuk mendapatkan cinta tiara, ingga
ia kembali mengungkapkan cintanya kepada tiara disaat ujian semester
berlangsung.
Pada saat itu tiara sedang dengan seriusnya mengerjakan
soal-soal ujian matematika, dan kebetulan regal mendapat nomor ujian yang
tempat duduknya sebangku dengan tiara. Saat pengawas ujian sedang tidak
memperhatikan mereka, regal memegang tangan kanan tiara yang sedang memegang
pensil 2B, menatap mata tiara dan kembali menyatakan cintanya. Kali ini tiara
tersenyum dan berbisik lembut, “kita lanjutin lagi bicaranya setelh ujian yah…”
dan akhirnya tiara menerima pernyataan cinta regal.
Dua setengah tahun berlalu penuh keceriaan dan kasih
sayang diantara mereka. Mereka telah menciptakan kenangan-kenangan indah yang
sulit terlupakan. Merekapun berhasil menjaga baik benih-benih cinta yang teah
mereka tanam dihati mereka. Sampai suatu saat….
Ujian akhir nasional telah berlalu dan pengumuman
kelulusan pun telah diumumkan. Entah keajaiban apa yang terjadi membuat regal
dan tiara lulus dengan nilai yang sangat tinggi, mereka berdua pun tidak
mempercayainya “ ah mungkin tuhan lagi baik hati”, canda mereka. Namun
saat-saat beginilah yang paling memilukan, karena mereka semua harus berpisah
menuju pilihan hidup yang baru untuk menuju masa depan yang cerah.
Hal yang serupa pun akan terjadi pada dua sejoli
ini, dan mereka telah menyadarinya. Disebuah taman kota yang bagi para anak
muda menyebutnya dengn taman cinta broko, mereka berdua duduk dibawah kaki
patung pahlawan yang bediri gagah perkasa sambil mengacungkan pedang keatas.
Ditaman inilah kejadian menyakitkan terjadi, ditaman inilah kata pisah terungkai
dalam kalimat, disinilah lambaian tangan dan langkah kaki menjauh tercipta dan
disinilah benih-benih cinta mereka yang telah tumbuh akhirnya layu dan mati.
Saat itu mereka duduk bersebelahan, sunyi dan
sepi.”sekarang kita harus bagaimana?Apa
kamu yakin dengan pilihan mu?Apa kamu bersi teguh untuk masuk biara dan
meninggalkan tiara?Terus apalah artinya cinta kita selama ini?pernyataan beruntun
tiara memecahkan kebisuan diantara mereka.
Regal diam tak bekutik. Tak ada kata-kata
yang keluar dari mulutnya, entah bingung untuk menjawab ataukah tak menemukan
kata yang tepat untuk berkomentar, yang pasti ia hanya menunduk bisu. Wajahnya
ia lenyapkan diantara lututnya. Ia sedang dalam dilemma yang besar. Ia harus
memilih kekasih hati atau suara hati. Keduanya begitu mulia dimata hatinya
bagaikan emas dan berlian, siapakah yang mampu membuang salah satunya?
Malam semakin larut, udara bertambah
dingin, suasana semakin pilu dan makin mencengkam. Bintang-bintang yang tadinya
terang benderang kini redup, bagaikan ikut merasakan suasana hati kedua sejoli
ini. Detak jarum detik dari arloji yang dikenaka regal semakin terdengar keras,
namun detak jarum jam itu tak sebanding dengan cepatnya degup jantung kedunya.
Tiba-tiba tiara berdiri dari
duduknya, seketika itu regal tersadar dari kebingungannya. Sambil berjalan
pelan tiara berkata “Tiara rela ko melepas kamu, asal kamu juga rela melepas
tiara”. Tiara terus berjalan menuju parkiran, sedangkan regal masih tersimpuh
dibawa patung itu sambil matanya terus memandangi perginya tiara hingga lenyap
hilang bersama ojek yang ditumpanginya.
“Ding…dang…dung…” lonceng biara
berbunyi tiga kali pertanda semua lampu harus dimatikan dan semuanya harus
segera tidur. Bunyi lonceng itupun mengembalikan kesadaran regal dan sekaligus
melenyapkan kenangan-kenangan itu dipikirannya. Regal pun bangun dan berniat
mematikan lampu kamarnya, tanpa sadar ia merasakan butiran-butiran halus
mengalir di kedua pipinya. Dengan malu ia mengusapnya, mematikan lampunya dan
membenamkan dirinya kedalam selimutnya yang tipis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar