Kamis, 20 November 2014

resensi ibd

Nama Kelompok:
1. Adhi Ridho M : 10514215
2. Albert Ferdinand : 10514725
3. Intan Yuliawati : 15514389
4. Rifah Sultanandar : 19514340
5. Sujabat Kartiko Sidi : 1A514497

Resensi novel angkatan 1966 "ZIARAH"
Judul : “ZIARAH”
Pengarang : Iwan Simatupang
Angkatan : 1966
Penerbit : Djambatan
Tebal : 148 Halaman


Sinopsis


       Novel Ziarah karya Iwan Simatupang adalah novel yang menceritakan seorang pelukis terkenal seantero negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai. Istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadier polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
      Hidup bahagia bersama sang istri membuat pelukis benar-benar kehilangan. Apalagi setelah dia tahu bahwa istrinya mati karena telah melihat ibu kandungnya ada bersama gerombolan nona-nona tua yang menyaksikan kebahagiaan mereka saat hidup dalam gubuk tepi laut. Pelukis pun langsung pergi kekantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan.Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya.Yang dia tahu hanyalah kecintaan pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (merupakan walikota kedua dalam novel ini,dia adalah wakil walikota yang diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis.
      Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan.Sampai penguburan usai pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya dia melihat wanita tua kecil. Tak tahu itu siapa,ternyata adalah ibu kandung dari si gadis. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat delima bagi si anak. Lalu pergi sambil menagis. Dan sesaat kemudian pelukis ada dalam gubuknya,memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membakarnya sampai habis. Hingga tersisa beberapa yang ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
     Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah.Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya,memanggil Tuhannya,meneriakkan nama istrinya,menangis dan kemudian tertawa keras-keras.
      Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
      Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter.
       Diakhir cerita,pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Pekuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia,pada mayat istrinya.



Unsur Intrinsik Novel
a.     Tema: Ziarah Kubur
b.     Penokohan:
-          Utama: Pelukis, Istri Pelukis, Opseter Perkuburan
-          Antagonis : Istri
-          Protagonis : Pelukis
-          Tritagonis : Opseter PekuburanMahaguru Opseter
-          Pembantu:Walikota,Wakil Walikota,maha guru Opseter, Ayah Opseter, orang Buta     profesional, kepala Negara, perdana menteri, Nona-nona tua, brigadier polisi, mandor dan pegawai pekuburan, kepala dinas pekerjaan umum, official, centeng pekuburan
c.      Alur : Alur dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca.
Pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back”. Pembaca diajak untuk mengernyitkan dahi karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel. Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.
Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan opseter sebelum menjadi opseter.
Pengenalan pengenalan-pengenalan Tokoh-tokoh novel, baik pelukis, opseter dan juga istri opseter yang tersaji bukan hanya diawal novel.
-          Pemunculan konflik :Kematian istri pelukis,yang menjadi awal derita pelukis.
-          Konflik :Opseter pekuburan menyuruh pelukis untuk mengapur tembok luar komplek pekuburan.
-          Antiklimaks: Pelukis tahu tujuan sebenarnya opseter pekuburan memperkerjakannya
-          Peleraian : Mahaguru opseter menceritakan semua tentang riwayat opseter pekuburan.
d.     Sudut pandang: Orang ketiga (Dia,nya)
e.      Setting Tempat:
-          di tikungan : ”….disalah satu tikungan….(1)
-          Rumah kecil : ”…kekamar kecil.disatu rumah kecil….(1)
-          Di kakilima : ”…langkah-langkahnya dikakilima…(6)
-          Di kedai arak : ”sekencang-kencangnya ke kedai arak..(2)
-          Di pekuburan : ”..suasana pekuburan di tengah hari…(10)
-          Di rumah dinas opseter: ” ..jendela rumah dinasnya…(11)
-          Kantor dinas walikota: ”..sidang darurat badan pekerja harian.(12)
-          Di alun-alun kota : ”…orang-orang dialun-alun ikut….(19)
-          Diistana Negara : ”…kabinet kepada parlemen…(35)
-          Dilintasan lari : ”…bertulisan benar-benar :FINISH..(55)
-          Di hotel : ”..kamarnya ditingkat empat hotel itu (73)
-          Diaspal jalan raya : ”..yang sedang asyik diatas aspal panas(73)
-          Di kantor catatan sipil : ”..eh catatan sipil,supaya hal yang…(74)
-          Digubuk tepi pantai : ”..kegubuk yang masih utuh di pantai (89)
-          Rumah nyonya tua : ”..rumah kami dilalui serdadu serdadu(119)
-          LPAYLITK : “..lembaga pemeliharaan anak-anak yang
Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin…(120)
-          LPWTYS : ”.Lembaga Pemeliharaan Wanita-wanita
Tua Yang Sendiri..(122)
-          Tembok luar perkuburan: ”dia melompat turun dari tembok…(126)
-          Balai kota : ”…ke balai kota…(140)
f.       Waktu:
-      Pagi hari : ”… saya minum arak sepagi ini…(7)
       ….paginya dia selalu gembira…(1)
       ….esoknya pagi-pagi benar kepala…(30)
-      Tengah hari : ”…persis tengah hari mereka…(10)
       ….lepas sedikit tengah hari…(11)
-          Sore hari/senja : ”…menjelang benamnya matahari dia..(11)
…matahari segera akan tenggelam…(104)
-          Malam hari : ”…begitu malam jatuh perutnya…(1)
…persis jam 12 tadi malam…(31)
…kepanas makanan malamnya….(134)
g.     Suasana:
-          Gembira : ”..menggegar suatu tawa gempita..(15)
-          Sunyi : ”..sunyi senyap di pekuburan itu…(133)
-          Takut : ”..bukan sorak sorai!tapi teriakan…(55)
-          Ramai : ”..ketengah orang ramai itu……..(55)
-          Panic : ”Hadirin geger…..(55)
-          Kacau : ”mandor melihat opseter keluar rumah.(52)
-          Gelisah : ”..dia mulai gelisah.dia melihat…(89)
-          Hening : ”sesudah itu hening sehening-heningnya(3)
-          Sedih : ”.demi satu titik membasah dimatanya(123)
h.     Kepengarangan:
Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang, atau biasa dipanggil Iwan Simatupang. Beliau dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Sebelum menulis novel ini, beliau menulis beberapa novelnya yang terkenal, seperti Merahnya Merah yang mendapat hadiah nasional 1970 dan novel Ziarah itu sendiri dalam terjemahan Bahasa Inggris yang mendapat hadiah roman ASEAN terbaik tahun 1977.

Kelebihan:
          Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Dalam menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Terdapat juga istilah-istilah
berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.

Kekurangan:
Dalam penulisan novel ini, pengarang masih tetap memakai bahasa
Indonesia walaupun banyak sekali ejaan-ejaan yang tak baku. Pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu.


THE DILEMA
BIARA OR TIARA

“Regal, sekarang kamu harus berpikir matang-matang, kamu harus memilih antara tiara atau biara.Ingat regal, tolong gunakan hatimu”.



Kata-kata terakhir tiara sebelum melangkah meninggalkan regal saat pertemuan terakhir mereka disebuah taman, disebuah kota kecil nan sepi, broko.Kembali terngiang dibenak regal. Yah, kata-kata itu bagaikan hantu yang selalu menerornya disetiap kesendiriannya terlebih disetiap malam sebelum matanya benar-benar terkatup. Dan hal serupapun kembali terjadi malam ini.



Namun mala mini lebih berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini terasa lebih pilu dan sunyi. Didalam sebuah kamar biara yang berukuran super sempti, diatas tempat tidur besi beralaskan kasur tipis ia berbaring. Matanya menengadah keatas menatapi langit-langit kamar yang bercat putih menambah kekosongan jiwanya dan membuatnya lebih tenggelam dalam lamunanya. Namun lamunnya kali ini disokong oleh akal sehatnya, seperti ia sendirilah yang membiarkan dirinya tenggelam kedalam lamunnya itu.Lamun itu adalah sebuah kenangan, yah pantasnya disebut mengenang.



Akibat dari bisikan tiara yang selalu menghantuinya membuat regal membiarkan pikirannya dihuni oleh kenangan-kenangan indah dahulu bersama kekasih hatinya, tiara. Ia terkenang akan saat-saat pertama medekati tiara, saat mengungkapkan cintanya pada tiara dikantin sekolah yang saat itu sempat ditolak oleh tiara. Namun ia tetap gigih untuk mendapatkan cinta tiara, ingga ia kembali mengungkapkan cintanya kepada tiara disaat ujian semester berlangsung.



Pada saat itu tiara sedang dengan seriusnya mengerjakan soal-soal ujian matematika, dan kebetulan regal mendapat nomor ujian yang tempat duduknya sebangku dengan tiara. Saat pengawas ujian sedang tidak memperhatikan mereka, regal memegang tangan kanan tiara yang sedang memegang pensil 2B, menatap mata tiara dan kembali menyatakan cintanya. Kali ini tiara tersenyum dan berbisik lembut, “kita lanjutin lagi bicaranya setelh ujian yah…” dan akhirnya tiara menerima pernyataan cinta regal.



Dua setengah tahun berlalu penuh keceriaan dan kasih sayang diantara mereka. Mereka telah menciptakan kenangan-kenangan indah yang sulit terlupakan. Merekapun berhasil menjaga baik benih-benih cinta yang teah mereka tanam dihati mereka. Sampai suatu saat….



Ujian akhir nasional telah berlalu dan pengumuman kelulusan pun telah diumumkan. Entah keajaiban apa yang terjadi membuat regal dan tiara lulus dengan nilai yang sangat tinggi, mereka berdua pun tidak mempercayainya “ ah mungkin tuhan lagi baik hati”, canda mereka. Namun saat-saat beginilah yang paling memilukan, karena mereka semua harus berpisah menuju pilihan hidup yang baru untuk menuju masa depan yang cerah.



Hal yang serupa pun akan terjadi pada dua sejoli ini, dan mereka telah menyadarinya. Disebuah taman kota yang bagi para anak muda menyebutnya dengn taman cinta broko, mereka berdua duduk dibawah kaki patung pahlawan yang bediri gagah perkasa sambil mengacungkan pedang keatas. Ditaman inilah kejadian menyakitkan terjadi, ditaman inilah kata pisah terungkai dalam kalimat, disinilah lambaian tangan dan langkah kaki menjauh tercipta dan disinilah benih-benih cinta mereka yang telah tumbuh akhirnya layu dan mati.



Saat itu mereka duduk bersebelahan, sunyi dan sepi.”sekarang kita harus  bagaimana?Apa kamu yakin dengan pilihan mu?Apa kamu bersi teguh untuk masuk biara dan meninggalkan tiara?Terus apalah artinya cinta kita selama ini?pernyataan beruntun tiara memecahkan kebisuan diantara mereka.



            Regal diam tak bekutik. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, entah bingung untuk menjawab ataukah tak menemukan kata yang tepat untuk berkomentar, yang pasti ia hanya menunduk bisu. Wajahnya ia lenyapkan diantara lututnya. Ia sedang dalam dilemma yang besar. Ia harus memilih kekasih hati atau suara hati. Keduanya begitu mulia dimata hatinya bagaikan emas dan berlian, siapakah yang mampu membuang salah satunya?



            Malam semakin larut, udara bertambah dingin, suasana semakin pilu dan makin mencengkam. Bintang-bintang yang tadinya terang benderang kini redup, bagaikan ikut merasakan suasana hati kedua sejoli ini. Detak jarum detik dari arloji yang dikenaka regal semakin terdengar keras, namun detak jarum jam itu tak sebanding dengan cepatnya degup jantung kedunya.



            Tiba-tiba tiara berdiri dari duduknya, seketika itu regal tersadar dari kebingungannya. Sambil berjalan pelan tiara berkata “Tiara rela ko melepas kamu, asal kamu juga rela melepas tiara”. Tiara terus berjalan menuju parkiran, sedangkan regal masih tersimpuh dibawa patung itu sambil matanya terus memandangi perginya tiara hingga lenyap hilang bersama ojek yang ditumpanginya.



            “Ding…dang…dung…” lonceng biara berbunyi tiga kali pertanda semua lampu harus dimatikan dan semuanya harus segera tidur. Bunyi lonceng itupun mengembalikan kesadaran regal dan sekaligus melenyapkan kenangan-kenangan itu dipikirannya. Regal pun bangun dan berniat mematikan lampu kamarnya, tanpa sadar ia merasakan butiran-butiran halus mengalir di kedua pipinya. Dengan malu ia mengusapnya, mematikan lampunya dan membenamkan dirinya kedalam selimutnya yang tipis.

THE DILEMA