Nama Kelompok:
1. Adhi Ridho M : 10514215
2. Albert Ferdinand : 10514725
3. Intan Yuliawati : 15514389
4. Rifah Sultanandar : 19514340
5. Sujabat Kartiko Sidi : 1A514497
Resensi novel angkatan 1966 "ZIARAH"
Judul : “ZIARAH”
Pengarang : Iwan Simatupang
Angkatan : 1966
Penerbit : Djambatan
Tebal : 148 Halaman
Pengarang : Iwan Simatupang
Angkatan : 1966
Penerbit : Djambatan
Tebal : 148 Halaman
Sinopsis
Novel Ziarah karya Iwan Simatupang adalah novel yang menceritakan seorang pelukis terkenal seantero negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai. Istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadier polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
Hidup bahagia bersama sang istri membuat pelukis benar-benar kehilangan. Apalagi setelah dia tahu bahwa istrinya mati karena telah melihat ibu kandungnya ada bersama gerombolan nona-nona tua yang menyaksikan kebahagiaan mereka saat hidup dalam gubuk tepi laut. Pelukis pun langsung pergi kekantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan.Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya.Yang dia tahu hanyalah kecintaan pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (merupakan walikota kedua dalam novel ini,dia adalah wakil walikota yang diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis.
Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan.Sampai penguburan usai pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya dia melihat wanita tua kecil. Tak tahu itu siapa,ternyata adalah ibu kandung dari si gadis. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat delima bagi si anak. Lalu pergi sambil menagis. Dan sesaat kemudian pelukis ada dalam gubuknya,memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membakarnya sampai habis. Hingga tersisa beberapa yang ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah.Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya,memanggil Tuhannya,meneriakkan nama istrinya,menangis dan kemudian tertawa keras-keras.
Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter.
Diakhir cerita,pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Pekuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia,pada mayat istrinya.
Unsur
Intrinsik Novel
a. Tema: Ziarah Kubur
b. Penokohan:
-
Utama: Pelukis, Istri Pelukis, Opseter Perkuburan
-
Antagonis : Istri
-
Protagonis : Pelukis
-
Tritagonis : Opseter PekuburanMahaguru Opseter
-
Pembantu:Walikota,Wakil Walikota,maha guru Opseter, Ayah Opseter, orang
Buta profesional, kepala Negara, perdana
menteri, Nona-nona tua, brigadier polisi, mandor dan pegawai pekuburan, kepala
dinas pekerjaan umum, official, centeng pekuburan
c. Alur : Alur dalam
novel ini memang sedikit membingungkan pembaca.
Pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back”. Pembaca diajak untuk mengernyitkan dahi karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel. Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.
Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan opseter sebelum menjadi opseter.
Pengenalan pengenalan-pengenalan Tokoh-tokoh novel, baik pelukis, opseter dan juga istri opseter yang tersaji bukan hanya diawal novel.
Pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back”. Pembaca diajak untuk mengernyitkan dahi karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel. Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.
Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan opseter sebelum menjadi opseter.
Pengenalan pengenalan-pengenalan Tokoh-tokoh novel, baik pelukis, opseter dan juga istri opseter yang tersaji bukan hanya diawal novel.
-
Pemunculan konflik :Kematian istri pelukis,yang menjadi awal
derita pelukis.
-
Konflik :Opseter pekuburan menyuruh pelukis untuk mengapur tembok
luar komplek pekuburan.
-
Antiklimaks: Pelukis tahu tujuan sebenarnya opseter pekuburan
memperkerjakannya
-
Peleraian : Mahaguru opseter menceritakan semua tentang riwayat
opseter pekuburan.
d. Sudut pandang: Orang
ketiga (Dia,nya)
e. Setting Tempat:
-
di tikungan : ”….disalah satu tikungan….(1)
-
Rumah kecil : ”…kekamar kecil.disatu rumah kecil….(1)
-
Di kakilima : ”…langkah-langkahnya dikakilima…(6)
-
Di kedai arak : ”sekencang-kencangnya ke kedai arak..(2)
-
Di pekuburan : ”..suasana pekuburan di tengah hari…(10)
-
Di rumah dinas opseter: ” ..jendela rumah dinasnya…(11)
-
Kantor dinas walikota: ”..sidang darurat badan pekerja harian.(12)
-
Di alun-alun kota : ”…orang-orang dialun-alun ikut….(19)
-
Diistana Negara : ”…kabinet kepada parlemen…(35)
-
Dilintasan lari : ”…bertulisan benar-benar :FINISH..(55)
-
Di hotel : ”..kamarnya ditingkat empat hotel itu (73)
-
Diaspal jalan raya : ”..yang sedang asyik diatas aspal panas(73)
-
Di kantor catatan sipil : ”..eh catatan sipil,supaya hal yang…(74)
-
Digubuk tepi pantai : ”..kegubuk yang masih utuh di pantai (89)
-
Rumah nyonya tua : ”..rumah kami dilalui serdadu serdadu(119)
-
LPAYLITK : “..lembaga pemeliharaan anak-anak yang
Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin…(120)
Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin…(120)
-
LPWTYS : ”.Lembaga Pemeliharaan Wanita-wanita
Tua Yang Sendiri..(122)
Tua Yang Sendiri..(122)
-
Tembok luar perkuburan: ”dia melompat turun dari tembok…(126)
-
Balai kota : ”…ke balai kota…(140)
f. Waktu:
- Pagi hari : ”… saya minum arak sepagi ini…(7)
….paginya dia selalu gembira…(1)
….esoknya pagi-pagi benar kepala…(30)
- Tengah hari : ”…persis tengah hari mereka…(10)
….lepas sedikit tengah hari…(11)
- Pagi hari : ”… saya minum arak sepagi ini…(7)
….paginya dia selalu gembira…(1)
….esoknya pagi-pagi benar kepala…(30)
- Tengah hari : ”…persis tengah hari mereka…(10)
….lepas sedikit tengah hari…(11)
-
Sore hari/senja : ”…menjelang benamnya matahari dia..(11)
…matahari segera akan tenggelam…(104)
…matahari segera akan tenggelam…(104)
-
Malam hari : ”…begitu malam jatuh perutnya…(1)
…persis jam 12 tadi malam…(31)
…kepanas makanan malamnya….(134)
…persis jam 12 tadi malam…(31)
…kepanas makanan malamnya….(134)
g. Suasana:
-
Gembira : ”..menggegar suatu tawa gempita..(15)
-
Sunyi : ”..sunyi senyap di pekuburan itu…(133)
-
Takut : ”..bukan sorak sorai!tapi teriakan…(55)
-
Ramai : ”..ketengah orang ramai itu……..(55)
-
Panic : ”Hadirin geger…..(55)
-
Kacau : ”mandor melihat opseter keluar rumah.(52)
-
Gelisah : ”..dia mulai gelisah.dia melihat…(89)
-
Hening : ”sesudah itu hening sehening-heningnya(3)
-
Sedih : ”.demi satu titik membasah dimatanya(123)
h. Kepengarangan:
Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang, atau biasa
dipanggil Iwan Simatupang. Beliau dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan
meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Sebelum menulis novel ini, beliau menulis
beberapa novelnya yang terkenal, seperti Merahnya Merah yang mendapat hadiah
nasional 1970 dan novel Ziarah itu sendiri dalam terjemahan Bahasa Inggris yang
mendapat hadiah roman ASEAN terbaik tahun 1977.
Kelebihan:
Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat
pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian
novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai
penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Dalam
menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi
endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang
didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Terdapat juga
istilah-istilah
berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.
berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.
Kekurangan:
Dalam penulisan novel ini, pengarang masih
tetap memakai bahasaIndonesia walaupun banyak sekali ejaan-ejaan yang tak baku. Pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu.