Kamis, 24 Maret 2016

KONSEP NORMAL-ABNORMAL DALAM MASYARAKAT

Nama: Albert Ferdinand
Kelas: 2PA07
NPM: 10514725
Mata Kuliah: Kesehatan Mental #

PENDAHULUAN
Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination--menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.

Pada abad pertengahan kepercayaan tersebut makin meningkat pengaruhnya dan pada akhirnya mendominasi pemikiran di zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Rupanya, hal seperti ini masih dapat dijumpai di negara kita, khususnya di daerah pedalaman. Kita pernah saksikan tayangan televisi yang mengisahkan tentang seorang ibu dirantai kakinya karena dianggap gila. Oleh karena keluarga meyakini bahwa sang ibu didiami oleh roh jahat, maka mereka membawa ibu ini pada seorang tokoh agama di desanya. Dia diberi minum air putih yang sudah didoakan. Mungkin inilah gambaran situasi pada abad pertengahan berkaitan dengan penyebab perilaku abnormal.

Lalu apa yang dilakukan waktu itu? Pada abad pertengahan, para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Mereka melakukan pengusiran roh jahat (exorcism) dengan cara, misalnya: berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib, memukul, mencambuk, dan bahkan membuat korban menjadi kelaparan. Apabila korban masih menunjukkan perilaku abnormal, maka ada pengobatan yang lebih kuat, seperti penyiksaan dengan peralatan tertentu.
Keyakinan-keyakinan dalam hal kerasukan roh jahat tetap bertahan hingga bangkitnya ilmu pengetahuan alam pada akhir abad ke 17 dan 18.

Masyarakat secara luas mulai berpaling pada nalar dan ilmu pengetahuan sebagai cara untuk menjelaskan fenomena alam dan perilaku manusia. Akhirnya, model-model perilaku abnormal juga mulai bermunculan, meliputi model-model yang mewakili perspektif biologis, psikologis, sosiokultural, dan biopsikososial. Di bawah ini adalah penjelasan-penjelasan singkatnya

a.    Perspektif biologis
Seorang dokter Jerman, Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa perilaku abnormal berakar pada penyakit di otak. Pandangan ini cukup memengaruhi dokter Jerman lainnya, seperti Emil Kraepelin (1856-1926) yang menulis buku teks penting dalam bidang psikiatri pada tahun 1883. Ia meyakini bahwa gangguan mental berhubungan dengan penyakit fisik. Memang tidak semua orang yang mengadopsi model medis ini meyakini bahwa setiap pola perilaku abnormal merupakan hasil dari kerusakan biologis, namun mereka mempertahankan keyakinan bahwa pola perilaku abnormal tersebut dapat dihubungkan dengan penyakit fisik karena ciri-cirinya dapat dikonseptualisasikan sebagai simtom-simtom dari gangguan yang mendasarinya.

b.    Perspektif psikologis
Sigmund Freud, seorang dokter muda Austria (1856-1939) berpikir bahwa penyebab perilaku abnormal terletak pada interaksi antara kekuatan-kekuatan di dalam pikiran bawah sadar. Model yang dikenal sebagai model psikodinamika ini merupakan model psikologis utama yang pertama membahas mengenai perilaku abnormal.

c.    Perspektif sosiokultural
Pandangan ini meyakini bahwa kita harus mempertimbangkan konteks-konteks sosial yang lebih luas di mana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal. Penyebab perilaku abnormal dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan, perpecahan sosial, diskriminasi ras, gender,gayahidup,dansebagainya.

d.   Perspektif biopsikososial
Pandangan ini meyakini bahwa perilaku abnormal terlalu kompleks untuk dapat dipahami hanya dari salah satu model atau perspektif. Mereka mendukung pandangan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami dengan paling baik bila memperhitungkan interaksi antara berbagai macam penyebab yang mewakili bidang biologis, psikologis, dan sosiokultural.
TEORI

            Dalam perilaku, normal adalah istilah yang dikenal untuk setiap makhluk hidup bahwa tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompoknya, meskipun dalam derajat yang bervariasi, setiap hidup yang memiliki perbedaan apapun biasanya tidak diperhitungkan, dimana penggunaan kata yang normal hanya bisa subjektif.          
Menurut Maramis (1999), normal adalah keadaan sehat dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan abnormal adalah menyimpang dari yang normal.
            Perilaku normal adalah perilaku yang serasi dan tepat yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Pendekatan normal dan abnormal menurut Profesor Suprapti Sumarno (1976):
a)    Pendekatan Kuantitatif, didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
b)    Pendekatan Kualitatif, didasarkan pada obsevasi empirik pada tipe-tipe ideal dan terikat pada faktor sosial kultural setempat.

Kriteria Abnormalitas
1.     Penyimpangan dari norma-norma statistik
Menurut patokan ini, yang disebut abnorml adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. Kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat-sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi.
2.     Penyimpangan dari norma-norma sosial
Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai nonkonformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial.inilah yang disebut relativisme budaya: apa saja yang umum atau lazim adalah normal.
3.     Gejala “Salah Suau” (Maladjustment)
Abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari berbagai kebutuhannya sendiri. Kriteria ini dapat bersifat negatif, dalam arti tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well-adjusted) tanpa memanfaatkan dan memperkembangkan kemampuan-kemampuannya.
4.     Tekanan Batin
Abnormalitas dipandang berwujud perasaan-perasaan cemas, depresi, atau sedih, atau rasa bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya.
5.     Ketidakmatangan
Seseorang disebut abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, tidak selaras dengan situasinya.
            Coleman, Butcher dan Carson (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya, akhirnya hanya menggunakan dua kriteria, yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif.

Istilah tentang Perilaku Abnormal
            Menurut Coleman, Butcher & Carson (1980):
a)    Perilaku Abnormal
Istilah ini memiliki arti yang bermacam-macam. Terkadang dipakai untuk menunjuk aspek batiniah kepribadian, aspek yang dapat langsung diamati, perilaku spesifik tertentu seperti fobia atau skizofrenia.
b)    Perilaku Maladaptif
Istilah ini memiliki arti luas meliputi setiap perilaku yang mempunyai dampak merugikan bagi individu atau masyarakat, tidak hanya mencakup gangguan seperti neurosis dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, melainkan juga berbagai bentuk perilaku baik perorangan maupun kelompok.
c)    Gangguan Mental
Istilah ini menunjuk pada semua bentuk perilaku abnormal, mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhkan.
d)    Psikopatologi
Istilah ini sebenarnya berarti kajian tentang perilaku abnormal atau gangguan mental, namun sering juga dipakai sebagai istilah lain bagi kedua istilah tersebut.

e)    Penyakit Jiwa
Dulu istilah ini diartikan sama dengan gangguan mental. Kini dipersempit hanya mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau berupa disorganisasi kepribadian yang parah.
f)     Gangguan Perilaku
Istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya.
g)    Penyakit Mental
Dulu istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak. Kini, jarang dipakai.
h)    Ketidakwarasan
Istilah ini menunjuk pada gangguan mental yang serius.

ANALISIS

Contoh Kasus:
            Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotektif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.



Pembahasan:
            Dari contoh kasus diatas kita dapat mengidentifikasikan bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal, sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotektif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang disebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang bersikap otoriter dan overprotektif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotektif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.


DAFTAR PUSTAKA




Minggu, 24 Januari 2016

Tes Psikologi Online

Anne Anastasi (1976) mengatakan bahwa tes pada dasarnya adalah suatu pengukuran yang obyektif dan standar terhadap sampel perilaku. Brown (1976) mengatakan bahwa tes adalah suatu prosedur yang sistematis guna mengukur sample perilaku seseorang. Namun Brown menganggap bahwa ciri sistematis tersebut telah mencakup pengertian obyektif, standar, dan syarat-syarat kualitas lainnya.

Definisi yang lebih lengkap dapat dikutipkan langsung dari pendapat Cronbach yang dikemukakan dalam bukunya Essentials of psychological Testing, yaitu: “….a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or a category system” (Cronbach, 1970).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Psikotes adalah prosedur pemeriksaan yang telah mengalami pembakuan, yang dimaksudkan untuk menyelidiki dan menetapkan sifat-sifat psikis khusus individu; pengujian mental.

Psikotes adalah tes yang dilakukan untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau valuasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional. Tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.Tes ini dapat berbentuk tertulis, proyektif, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi atau kemampuan kognitif dan emosional seseorang.

Tujuan dilaksanakannya tes ini adalah untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan orang secara mental dan faktor-faktor yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, dan intelegensi. Jadi, psikotes adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui gambaran seseorang mulai dari kemampuan kognitifnya, kondisi emosinya, kecenderungan-kecenderungan sikap dan hal-hal yang mempengaruhi kecenderungan tersebut.

Dalam psikotes, kemampuan yang diukur tidak melulu terkait dengan IQ seseorang. Selain tes IQ ada juga tes kepribadian, dan wawancara. Dari integrasi tes-tes tersebut, maka akan diperoleh gambaran mengenai orang yang di tes yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Zaman semakin berkembang, teknologi pun semakin canggih dan mutakhir. Salah satu teknologi yang semakin berkembang yaitu teknologi internet. Di era globalisasi ini, manusia bisa mendapatkan informasi secara cepat dengan adanya perkembangan teknologi internet ini. Teknologi internet sangat membantu manusia dalam berbagai hal, seperti berkomunikasi jarak jauh, mencari referensi dalam mengerjakan tugas, membuat publikasi, berbagi hasil penelitian, bermain video online, dan melakukan serta mengerjakan berbagai tes/ ujian.

Salah satu tes yang kini berkembang di dunia virtual/ dunia maya dalam perkembangan teknologi internet ini adalah tes psikologi. Kini tes psikologi telah ada secara instan atau online dan berkembang banyak melalui dunia maya. Tes psikologi banyak dibutuhkan dan digunakan. Istilah tes mengandung unsur pemeriksaan dan pengujian. Seperti tes-tes lain, baik tes fisik, tes laboratorium, tes prestasi, maupun tes bakat, tes psikologis berguna untuk membantu mengambil keputusan. Hasil tes ini dapat dipakai untuk melihat status klien atau pasien. Tes psikologis dapat pula digunakan untuk menentukan diagnosis, melihat gaya kognitif, hubungan sosial, pola kepribadian, ataupun kestabilan emosi klien atau pasien.

Tes psikologi adalah suatu teknik yang terstruktur yang digunakan untuk menghasilkan satu contoh perilaku terpilih. Contoh perilaku ini digunakan untuk membuat kesimpulan tentang atribut-atribut psikologis dari seseorang yang sedang dites. Beberapa contoh atribut orang adalah intelegensi, self esteem (harga diri),need for achievement (kebutuhan berprestasi), dan sebagainya. Tes ini ada beberapa jenis. Beberapa tes melibatkan situasi open-ended dengan stimulus standar (misalnya: serangkaian gambar); cara ini sering digunakan untuk mengeluarkan respon-respon yang bersifat pribadi (seperti misalnya komposisi cerita dalam merespon gambar-gambar). Tes-tes yang lain melibatkan situasi yang sangat terstruktur dimana rentang jawaban yang mungkin sempit dan jawabannya hanya salah dan benar.
Berikut adalah macam – macam situs penyedia tes psikologi online:
1. Brain Teaser – Google Search
Dari sini anda bisa menemukan banyak situs mengenai tebak-tebakan logika/matematika. Situs-situs semacam itu juga bisa ditemukan dari kata kunci “logic puzzle” atau “riddle“.
2. Face Recognition Abilities – Self Evaluation
 Tes Kemampuan Mengenal Wajah
3. Myers & Briggs Foundation
 Pengenalan mengenai dasar teori, instrumen, dan pembagian tipe dan temperamen manusia menurut alat ukur Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).
4. Personality Tests and Tools Bermacam-macam tes-tes kepribadian dari yang populer sampai yang ilmiah
5. Planet Personality
 Tes Kepribadian Gratis
6. Psychological Tests for Student Use
 Kumpulan beberapa alat tes psikologi yang bisa digunakan secara gratis
7. Psychology History Trivia
 Tes pengetahuan sejarah psikologi anda di sini!
8. Psychology Quizzes and Psychology Trivia – Funtrivia
 Berisi kumpulan tes-tes mengenai pengetahuan psikologi secara umum maupun dari berbagai bidang.
9. Test Dex
 Berisi kumpulan tes-tes kepribadian, kecerdasan, dan kecocokan
10. Your Personality
 Tes Kepribadian Gratis (2)

Dari berbagai macam tes dan situs di atas maka akan didapat berbagai macam hasil pula karena tes yang berbeda pula tahapannya.

Dampak Positif :
-> Menghemat waktu, lebih cepat, fleksibel
 -> Efisien karena dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan menggunakan internet
 -> Hasil tesnya langsung dapat diketahui tanpa menunggu waktu yang cukup lama
 -> Dapat berlatih terlebih dahulu secara klasikal
 -> Bisa dilakukan berulang kali secara instan sebelum mengikuti tes sesungguhnya seperti seleksi pekerjaan pada perusahaan-perusahaan
 -> Membantu mengembangkan sejumlah peneliti-peneliti terhadap penelitian alat dan panduan psikotest yang telah tersedia melalui mediasi/ perantara dengan penggunaan teknologi internet ini
 -> Perkembangan teknologi internet juga bisa digunakan dalam hal chatting, berkomunikasi jarak jauh melalui dunia maya, psikotes yang digunakan dalam hal ini terutama untuk tes wawancara.

Dampak Negatif :
-> Alat tes psikologi yang dibuat simulasinya hanyalah berdasarkan indikasi-indikasi yang sudah ditetapkan sesuai apa yang sudah diprogramkan tanpa melihat aspek-aspek sperti observasi, wawancara dan hal-hal lain yang mendukung data tersebut menjadi valid
 -> Tidak adanya kontrol, pengetahuan, pengamatan secara langsung kepada testee.
 -> Hasil tes bersifat sederhana karena penyajiannya secara cepat dan langsung dapat diketahui ketika selesai mengerjakan tes
 -> Tidak adanya konsultasi konseling dan penjelasan secara rinci dan lengkap terhadap hasil tes tersebut
 -> Tidak mengindahkan etika yang ada dan kurang menghormati peran kode etik pekerjaan
 -> Kerahasiaan alat tes dan program tes psikologi akan semakin terancam.
 -> Berdampak pula berkurangnya lahan pekerjaan pada orang-orang yang berprofesi sebagai tester karena kurangnya minat masyarakat untuk melakukan tes psikologis secara langsung.


Kinerja Tim
No
NPM
Nama
Jobdesk
Link
1.
10514725    
Albert Ferdinand
Editing

http://albertferdinand.blogspot.co.id/2016/01/tes-psikologi-online.html
2.
15514389       
Intan Yuliawati
Searching
http://intanyul.blogspot.co.id/2016/01/test-psikologi-online.html


3.
17514790  
Nalurita Syahfitri
Fasilitas Tempat
http://naluritasyahfitri.blogspot.co.id/2016/01/tes-psikologi-online.html

4.
1A514601
Syarah Mardiyanti 
Fasilitas WiFi
http://syarahmardiyantii.blogspot.co.id/2016/01/tes-psikologi-online.html

5.
1A514884
Trisya Handika Putri
Searching
http://trisyahptr.blogspot.co.id/2016/01/tes-psikologi-online.html